Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Creatio ex Nihilo

|


Secara bahasa creatio ex nihilo berasal dari bahasa latin yang berarti penciptaan dari ketiadaan.[1] Dalam istilah astronomi teori ini dikenal dengan istilah teori big-bang (dentuman besar). Dalam teori ini, dinyatakan bahwa semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa satu titik yang mempunyai “Volume Nol” karena gaya gravitasinya yang sangat besar. Alam semesta ini muncul dari hasil ledakan massa yang mempunyai volume nol ini.
Untuk mengatakan bahwa sesuatu mempunyai volume nol adalah sama saja dengan mengatakan sesuatu itu “tidak ada”. Seluruh alam semesta diciptakan dari ketiadaan ini. Dan lebih jauh lagi, alam semesta mempunyai permulaan.[2] Dan sesuatu apabila ia diciptakan dari ketiadaan maka ia akan kembali tiada. Begitu juga dengan alam semesta ini ketika energy dan gaya yang timbul dari ledakan besar tersebut habis maka ia akan runtuh. Jadi dengan kata lain, keberadaan alam ini murni tidak kekal.


[1] Bagus, Loren, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2005), P.623
[2] Yahya, Harun, Pustaka Sains Populer Islami: Penciptaan Alam Semesta, (Bandung: Dzikra, 2004), P. 10

Peripatetik

|


Peripatetik sering disebut dengan logika formal yang menuntut kebenaran proposisi.[1] Artinya untuk mencapai suatu kebenaran diperlukan kesinambungan kausalitas terhadap setiap fenomena yang terjadi. Metode ini berawal dari filsafat yunani, khususnya filsafat Plato dan Aristoteles.[2]Mengenai konsep alam, perspektif peripatetik berupaya untuk memadukan kosmos ke dalam sebuah system rasional yang luas. Alam dipandang sebagai sebuah wilayah yang harus dianalisis dan dipahami. Pengetahuannya dicapai melalui metode rasiosinasi itu sendiri yang instrument utamanya adalah logika. Oleh karena itu, madzhab ini di dalam islam diidentikkan dengan rasionalisme, meskipun rasionalisme dalam Islam tidak pernah terlepas dari wahyu. Observasi dan eksperimen, yang berada di jantung empirisme modern bukanlah aspek khas madzhab ini.[3]


[1]Ziai, Hosen, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardi’s Hikmah al-Isyraq, (Georgia: Brown University, 1990), P. 136
[2] Bakar, osman, Tauhid &Sains: esai-esai tentang sejarah dan filsafat sains dalam Islam, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), P.154
[3] Ibid, P.155

Islam dan Filsafat: Adakah filsafat dalam Islam?

|


Pembicaraan tentang hubungan antara filsafat dengan Islam adalah suatu pembicaraan yang sulit. Dikalangan ilmuan Islam sendiri terjadi banyak perbedaan pendapat mengenai masalah ini. Ada sebagian diantara mereka yang menolak dengan tegas keberadaan filsafat di dalam Islam dan ada pula yang menerimanya. Akan tetapi, apakah benar bahwasanya antara Islam dan Filsafat itu ada hubungan? atau mungkinkah itu hanya sekedar paradoks yang tak berujung?

Ide Dan Kesan Dalam Pandangan David Hume Dan Mengenai Kritik Atas Bukti Rasional Mengenai Tuhan

|




Orang yang memperkembangkan filsafat empirisme Locke dan Berkele secara konsekuen adalah David Hume[1]. Semula ia balajar hukum, kemudian ia berdagang, tetapi akhirnya belajar sastra dan filsafat. Karena dialah filsafat menjadi tidak masuk akal. Dalam arti tertentu ia mewakili suatu jalan buntu. Kalau empirisme[2] ditarik menurut garis yang ditunjukkan Hume, tidak mungkin orang berjalan terus. Dalam soal teori pengenalan ia mengajarkan, bahwa manusia tidak membawa pengetahuan bawaan ke dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengamatan.

Filsafat Agama Thomas Aquinas

|



Paradigma berpikir Barat modern sangat dipengaruhi oleh pemikiran yang bersifat logis. Mereka hanya mengakui apa yang ditangkap dan dipersepsikan oleh panca indera saja dan mengesampingkan hal-hal yang bersifat metafisika. Bahkan para ilmuwan barat mengklaim bahwasanya kemajuan mereka dalam bidang sains dan teknologi tidak lepas dari upaya mereka dalam melepaskan epistimologi dari teologi.
Jauh sebelum munculnya pemikiran-pemikiran logis tersebut. Salah seorang filosof barat yang sangat religius berupaya menentang pemikiran-pemikiran yang menyangkal metafisika, yang pada waktu itu banyak dipengaruhi oleh pemikiran neo-platonik. Dia  dikenal dengan nama Thomas Aquinas (1224-1274 M), tokoh puncak Skolastisisme. Seorang pendeta Dominikan yang dianggap gereja sebagai salah satu dari para Doktor Gereja.

Fenomenologi Edmund Husserl (Mencari Esensi Realiatas yang Terselubung oleh Teori)

|



Istilah fenomenologi telah lama muncul dan digunakan, sejak Lambert, Kant dan juga Hegel, dengan arti yang berbeda-beda.[1] Kant membedakan antara fenomena dan noumena. Yang mana yang pertama adalah menunjukkan kepada suatu dalam kesadaran dan yang kedua adalah realitas yang berbeda dari apa yang ditangkap oleh pengamat.[2] Dan manusia tidak ada kemampuan untuk mengetahui noumena karena sifatnya yang terselubung dari pikiran dan indera.
Meskipun demikian fenomenologi berubah menjadi sebuah disiplin ilmu filsafat dan metodologi berfikir pada zaman Husserl.[3] Yang mengusung tema Epoche-Eiditic Vision dan Lebenswelt sebagai sarana untuk mengungkap fenomena dan menangkap hakikat yang berada dibaliknya. Dan didalam makalah ini akan dibahas tentang konsep fenomenologi Husserl, dan metode yang digunakannya.

Mengenal Rasionalisme Descartes

|



Pada sebuah sesi wawancara ditelevisi seorang artis ibukota yang terkenal dengan pose-pose seksinya ditanya oleh seorang wartawan tentang bagaimana tanggapannya atas reaksi dari masyarakat terkait dengan foto-foto seksinya. Ia menjawab dengan tenang. Bahwasanya, hal itu menurut ia masih sopan yang penting tidak telanjang. Dari wawancara tersebut terlihat jelas pandangan artis tersebut mengenai batas kesopanan adalah tidak telanjang, ia menggunakan batas pemikirannya mengenai kesopanan sebagai asas yang menguatkan dirinya untuk berpose seksi.
Dari contoh diatas dapat diketahui bahwasanya, pemikiran rasional telah dijadikan sebagai alasan yang mendorong seseorang untuk menghukumi tidakannya sebagai hasil dari kebenaran pribadi dan mengabaiakan kebenaran umum yang telah berkembang dalam masyarakat. Ide-ide rasionalisme lebih menutut untuk menggunakan akal sebagai patokan dalam meperoleh kebenaran dan pengetahuan.

 

©2009 Me and My Mind | Template Blue by TNB